Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Bencana ini Menegurku

Malam berdebar mengguncang
Hening...
Alunan nada lirih merintih
Oleh rengah sang jangkrik
Terpaku diam kunang-kunang
Menyaksikan pertiwi bergetar
Lumpuh pepohonan, terbaring
Terhempas angin
Merunduk semak belukar, Iba
Langit padam terbelah
Runtuh jatuh tersungkur
Di atas kubangan darah roh serakah
Terjerembab dalam kucuran air mata
Tanah marah maraung kencang
Semayup lambai krikil kecil
Terantuk duri kehidupan

Siapa dibalik punggung bencana ini
Menjadikan deburan luapan insan
Terpukul Tangis riuh sendu
Tumpah ruah berselimut cahaya kelabu
Kini goncangan mengintai langkahmu
Munyusuri empu tangan kecil nan hina
Menggorok nadi hayati
Munutup payung peneduh jagat
Menjebol bendungan tirta bumi
Saat itu terjadi
Mulut kecil terkunci
Kelopak mata terpejam malu
Ketika itu matamu sekejab berseru
Bencana ini menegurku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selembar Sinar Dunia

Dunia pun pernah buta
Hingga tak melihat secuil abu-abu merana
Mengoyak tumpukan besi tua
Menjinjing karung lusuh tercemar
Wajah keruh,
Berpayungkan julitan mentari
Derai keringat mengucur dikulum debu
Melukiskan warna setiap langkah
menghadirkan langit padam gulita
Hingga hujan turun di pelupuk mata

Merintih sendu nadi berdebar
Kilatan jerit guntur menggelegar
Di bawah kardus tua kau bersarang
Menimbun semua tumpukan kepedihan
Di dasar muara tawa pengorbanan
Melayang setitik asa untuk penguasa
selembar kumuh sinar dunia
terpahat coretan sastra, Berkata
Kami masih warga INDONESIA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sajak usang

Ku jahit lusuhnya sajak sejarah
Dengan pita hitam di genggaman
Menggoreskan pena dengan kata
Curahan hati insan negara
Tercekik bencana menerpa
Membelit nadi dalam diri
Hari penuh jutaan duri

Ingin ku arungi negeri ini
Hinggap pada ranting keadilan
Merebahkan tubuh pada permadani suram
Bersandar pada sajak usang perjuangan
Tentang arti sebuah pengabdian

tak sanggup rasa memandang
Gemuruh kata terbang nenghilang
Mulut munguap teriak lantang
Mata terpejam, asa mulai pudar
Mengharap keadaan dapat di ulang

Ku ingat negriku yang dulu
Jutaan kicau burung bernyanyi
Melalui ranjang tempat ku berbaring
Kala itu kulihat
Surya merangkak mulai menampak
Penghuni veteran berbaris rapi
Badan tegap penuh wibawa
Benturan dan pahatan pelor pada punggungnya
Tetesan darah, mengguyur badan
Lambai dikara panji dwi warna
Hormat senjata, bahana merdeka

Ridwan_AE

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TUNAS KELAPAKU


Kala pagi datang mengantongi malam ...
Rengah suara burung terdengar
Kilau embun pagi menyapa
Temani benih tunas kelapa
Dibalik silau panasnya sang surya

Hutan rimba medan pengabdian
Berpayungkan pohon tinggi menjulang
Lelah tubuh kami rebahkan
Pada permadani hijau nan subur
Berselimut rajutan jutaan embun
Bisingnya peluit menjadi jam pembangun

Mulut ini membeku diam seribu kata
Kala terngiang asa,cita dan cerita
Kau yang berjalan di atas kerikil tajam
Badan legam tersambar mentari
Cucuran keringat, deras menetes
Tempaan kau jalani
Hukuman kau hadapi
Tindakan kau pertanggungjawabkan
Hingga Tumbuh tunas kelapa sejati
Rakhyan wara shinta ambalan kami

Tegap bared setegap badan perwira
Jilatan Api bagai kobaran semangat membara
Erat tali menyimpul persaudaraan sang Pramuka
Belati Merah putih hiasi leher kami
Saksi bisu ucapan sumpah dan janji
Dewa ruci hinggapan kami

Wahai pramuka sejati
Saat peluh ini tak lagi mengalir
Bukti pengabdian sudah berakhir
Warnai pramuka dengan ribuan warna
Pahat indah pada pundak kekarmu
Tiup hingga terbang lampaui awan
Hingga kami dapat berjumpa pramuka seribu tahun lagi

Kini kami harus menanggung beban
Sebab dinding pertempuran akan mengahadang
Puing tirta mata yang berserakan
Bungkus untuk melawan jeritan hati yang penuh luka
Dari Sayatan dan goresan yang kami lakukan
Kami hanya ingin melebur dendam berselimut dosa
Mencairkan maaf dalam uraian kata

RIDWAN_AE

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Darah dan air mata

Ku tutup mata ini
Termangu tetesan darah merendam negeri
Air mata armada mengapung
hanyutkan akar dalam keheningan
Daun tersungkur dihempas peluru
Lalu lalang bunga teteskan air mata
Hinggap di atas tanah nan basah
Terjerembab di bawah payung hitam
Berbaring memikul air mata
Menjahit tanah air dengan tetesan darah
Kala Berpijak arungi putih tulang nan kekar
Belum kering air mata, tak akan purna
Jangan damas tetesan darah, tak akan pernah
Bumi akan memeluk dan menyelimuti
Lambainya dwi warna atas darah dan air mata ini

Ridwan_AE

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SETAPAK


Jangan tanamkan,
Setapak derita melukai negri ini
Bingar uang hanyut tercuci
Kau bagai pemimpin dari kami
Rakyat, yang hanya menindihkan telapak kaki
Di atas pematang bunda pertiwi

Jangan terbangkan,
Setapak keadilan bagi kami
Meniup jauh hak kami
Membui segala kewajiban kami
Membungkam rapat mulut kami
Hingga daya tak lagi terasa

Almanak mulai berbisik,
Arloji tinggal menanti detik
Setapak mentari kuasai negri
Menerangi gelapnya langit politisi
Tapi kami tak sudi, jika...
Kau hanya hinggap di kursi jabatan
Dengan jamuan kertas milyaran
Hukum tumpul oleh jabatan
Tajam menyayat rakyat jalanan

Jangan biarkan,
Setapak suara meraung geram
Menindas kasar negri yang kejam
Debur insan tumpahi surau pemerintahan
Menenggelamkan karang utusan dewan
Mencari keadilan pada rimba kehidupan.




Rid'one

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SAYONARA


Dalam bait ku goreskan
pengalaman yang tak terlupakan
Melangkah bersama sebongkah pengabdian
Bergandeng tangan musuhi perbedaan

Saat syair ini bergema
Canda tawa terbayang dalam angan
Tongkat estafet yg tergenggan
Mengisyaratkan awal dari perjuangan
Berlarilah kedepan jebol dinding penghadang

Lorong-lorong gedung sekolah yang gelap
Derai keringat mengguyur badan
Goresan suka dalam luka
Terjahit rapi pada tembok SMA
tak sanggup rasa, melepas semua
Sayonara OSIS/MPK.

Memang ini harus terjadi
Sebab pemimpin amanah sudah menanti
Struktur organisasi yang harus di ganti
Menjelajahi tantangan yang datang
Mecari jalan terang setiap kesukaran
Belajar dan mencari arti dari derai tirta mata yang keluar

Ini bukan akhir, tapi ini awal terlahir
Dentuman langkah para pemimpin
Beban berat pikul di pundak
Jinjing bersama dengan kerja keras
Berjuang Dengan cinta
Lanjutkan setiap masa yang berkibar
ke semburat cahaya kejayaan


RIDWAN_AE

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS