Dunia pun pernah buta
Hingga tak melihat secuil abu-abu merana
Mengoyak tumpukan besi tua
Menjinjing karung lusuh tercemar
Wajah keruh,
Berpayungkan julitan mentari
Derai keringat mengucur dikulum debu
Melukiskan warna setiap langkah
menghadirkan langit padam gulita
Hingga hujan turun di pelupuk mata
Merintih sendu nadi berdebar
Kilatan jerit guntur menggelegar
Di bawah kardus tua kau bersarang
Menimbun semua tumpukan kepedihan
Di dasar muara tawa pengorbanan
Melayang setitik asa untuk penguasa
selembar kumuh sinar dunia
terpahat coretan sastra, Berkata
Kami masih warga INDONESIA






0 komentar:
Posting Komentar