SAYONARA
Di balik makna kicau GARUDA
Masa kecilku dulu kakek pernah bernyanyi untuk ku "garuda pancasila akulah pendukungmu..." betapa pentingnya pancasila yang di lambangkan burung garuda, sebagai ideologi bangsa Indonesia. Bahkan burung garuda mengandung 5 cita-cita nusa bangsa dari sabang sampai merauke di perutnya, sampai menggunakan tameng baja sebagai pelindungnya.
Tetapi sekarang tak seindah masa kecilku, banyak yang bilang,"awas! ada tikus kantor..!!!" yaiyalah, tikus memang ada di mana saja. Bahkan ada yang membuat lagu wakil rakyat, kok di lanjutin seharus nya merakyat...? Apa rakyat sudah bosan, memandang burung garuda sebagai ideologi bangsa yang sekarang mulai lusuh dan berkutu, yang selalu terpampang jelas di setiap ruang kedinasan, kemiliteran, bahkan Surau orang nomor 1 dinegeri ini. Mungkin jika burung garuda masih hidup, dia akan berkicau agar negeri ini tidak pudar oleh generasi.
Masih teringat pesan kakek sebelum beliau gugur "JAS MERAH", yang bermakna jangan melupakan sejarah. hingga saat ini aku yang berumur lebih muda dari makam kakek masih melihat banyak orang yang belum menerapkan makna dari JAS MERAH.
Dari 1001 lebih orang hanya satu yang ku temukan, seorang ahli sejarahwan, yang sangat menghargai sejarah pancasila, setiap butir sila yang tekandung dalam perut burung garuda dia paham maknanya hingga kehidupanya berbalut akan sila-sila, tak berselang lama aku bersahabat dekat dengan sejarahwan tersebut, panggil saja joy. Setiap langkah melewati hari-hari aku ingin mengupas teori sejarah dari awal kita di jajah hingga akhir kita merdeka. Seperti pesan terakhir kakek yang sempat terucap sebelum beliau meninggalkan negri ini selamanya.
Beruntung universitas ku dengan joy satu kampus, aku mengambil sastra indoneasia, dan joy tentu saja sejarah. Setiap jam aku bertemu joy, aku selalu nenanyakan "menurutmu apa hanya aku yang ingin sok tau tentang sejarah PANCASILA". Dan joy hanya tersenyum, memang sulit mengungkap sejarah yang penuh dengan labirin kehidupan.
Keesokan harinya, tepat di hari pendidikan nasional, 2 jam setelah aku selesai membuka tutup semua buku, Joy menghampiriku dan bertanya "aku mendengar jika kakekmu pahlawan, dan aku ingin tau kata yang terkecap sebelum beliau meninggal ...?" sepontan aku langsung menjawab "kakek pernah bilang 'JAS MERAH' padaku" joy pun tersentak kagum dengan sosok kakek,seorang pahlawan yang menaruhkan tumpah darahnya hanya untuk mendirikan negri yang adil dan makmur, tapi sayang banyak orang yang melupakan sejarah, burung garuda yang selalu di sebut sebagai ideologi bangsa sekarang tak banyak orang yang mengamalkan sila yang terkandung dalam perutnya, pejabat tinggi pun sekarang di selimuti indahnya Jabatan, akhirnya burung garuda hanya di jadikan pajangan bukan pedoman.
Mungkin jika aku jadi Raja akan ku jahit negri lusuh ini dengan persatuan tumpah darah pemuda indonesia , dan aku akan terbang sekuat 8 sayap kanan-kiri sang garuda, melampaui jagad raya. hingga negara lain mengenal negri yang saat ini kita pijak. Dan joy pun berkata padaku "burung garuda, 17 bulu di lehernya, 8 bulu kepak sayapnya, dan 45 bulu pada paha kokonya. Simbol dari tanggal indonesia merdeka yang terpampang jelas pada ideologi bangsa indonesia." aku tau kau sebagai mahasiswa sastra yang ingin lebih mendalami ilmu sejarah, lebih dari seorang kakekmu yang sangat luar biasa membawa negri ini menuju gerbang kemerdekaan.
Dari kata sahabatku itu aku lebih bersemangat mengejar silau dan misterinya sejarah, dan aku juga ingin jangan hanya para rakyat jelata, para penyandang jabatan pun harus memahami dan memaknai setiap bulir sila yang sempat di kicaukan burung garuda,agar generasi penerus banggsa tidak sempat berkenalan dan berjabat tangan dengan Korupsi,katanya hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin.
Mari kita bersatu padu memajukan hukum dan politik yang amanah, agar kata presiden pertama yang membela negeri Indonesia tidak mati bersama jasadnya, beliau berkata "MERDEKA". Dan burung garuda pun sudah menetaskan sila ke lima yang berkicau 'keadilan sosial bagi seliruh rakyat indonesia.
RIDWAN_AE
Curahan Baitku
Ku jahit bait lusuh
Menggoreskan pena dengan kata
Curahan hati insan negara
Tercekik bencana menerpa
Membelit nadi dalam diri
Hari penuh jutaan duri
Bait pertama tertempa angin
Gemuruh kata terbang nenghilang
Mulut munguap teriak lantang
Mengharap keadaan dapat di ulang
Di bait kedua
Tergores tinta pena
Meninggalkan isi bait pertama
Menyimpang kedaulatan negara
Tentang mereka yang berkuasa
Pada bait ke tiga
Jeruji besi transparan
Menghadang pemuka kejahatan
Itu untuk dewan...???
Bagi yg ada di jalanan
Jeruji besi membentang lebar
Terbuat dari baja yang kekar
Seakan sukar untuk keluar
Terlukis bait ke empat
Baru sedikit melanggar aturan
Meja hijau langsung di datangkan
Pasrah pada setiap keadaan
Di negri rimba penuh kecurangan
Seakan hukum tajam pada mereka
Menggores luka bait ke lima
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
Tapi kenapa rakyat kecil selalu merana
Mungkin belum sempat,Sebab masih ada Rapat
Tentang berapa gaji yg di dapat...
sampai kapan bendera berkibar
Menyilaukan gemerlap sinar keadilan
Bagi rakyat yg masih di jalanan.
Ridwan_AE
Benih Merah Putih
bertumpahnya darah duka ku
suci bersih berseri
terkandung dalam tanah anarki
cahaya terpancar di pagi buta
mewarnai kicauawan burung bernyanyi
menghangatkan jutaan embun pagi
membangun rumus semangat negeri
darah telah bercampur tanah
benih kecil merah putih
terengkrami dalam palung bunda pertiwi
menanti tetasan buah bagi negeri
dalam kata terngiang derita
anyir darah terselip belati
mencucur keluar hujani bumi
desing peluru pun bersaksi
bangkai tersapu air mata
bernisankan kokohnya tiang bendera
kini kami berjejak
di bawah kibaran bendera
medan gemah ripah lojinawi
kami bentengi jeruji besi
gagas serdadu menyerbu
gelebar lambai merah putih
merenggut sendu pilu
silau indah kelopak garuda
mencengkram cita nusa bangsa
benih jaya indonesia
Ridwan_AE





